Zakat dan Upaya Mengurangi Kemiskinan

Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. (QS At Taubah: 103). Kemiskinan terkadang membuat seseorang tidak berdaya sehingga memilih jalan yang kurang bermartabat guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemiskinan pula yang dijadikan alasan bagi orang untuk menjalani aktivitas sebagai pengemis. Walaupun tak jarang pula yang menjadikan kegiatan memohon belas kasihan dari orang lain itu sebagi profesi.

Akibatnya, semakin banyak kita saksikan para pengemis dari usia anak-anak hingga lanjut usia, cacat hingga sehat dan bugar, memenuhi setiap sudut keramaian di kota-kota besar. Bahkan di bulan suci Ramadhan para pengemis juga bermunculan di pasar-pasar desa, dan bahkan melakukan aksinya melalui cara yang lebih vulgar yakni dengan door to door. Kondisi yang demikian seakan mencerminkan semakin tidak berdayanya kaum miskin dalam ikhtiar melepaskan diri dari belenggu kemiskinan.

Dengan menengadakan tangan dan memohon rasa kasihan pada orang lain justru semakin meninabobokan mereka. Spirit untuk berusaha mandiri dengan sendirinya akan mati karena terbiasa dan terlena dengan belas kasihan dari orang lain. Banyaknya pengemis yang berkeliaran di jalan karena sesungguhnya mereka adalah produk dari kemiskinan. Mereka mengemis karena belum menemukan jalan keluar dari kemiskinan sementara kebutuhan hidup harus terpenuhi. Kemiskinan memang sangat sulit dihilangkan dalam kehidupan manusia namun tentu dapat diminimalisir

OPTIMALKAN ZAKAT

Meski pemerintah telah menjalankan beragam program dalam menanggulangi kemiskinan seperti melalui pemberdayaan masyarakat atau dikenal dengan program PNPM Mandiri, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Raskin, dan sebagainya, namun bukan berarti masyarakat tidak memiliki kewajiban dalam membantu mereka yang kekurangan.

Tanggungjawab dalam menanggulangi kemiskinan tetap menjadi tanggungjawab semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat maupun orang miskin itu sendiri. Untuk itu, semua pemangku kepentingan harus bahu membahu berjihad melawan kemiskinan. Salah satu cara yang bisa kita lakukan sebagai warga masyarakat dalam mengurangi angka kemiskinan dengan melakukan kewajiban membayar zakat.

Mengeluarkan zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu dan telah memenuhi syarat dengan ketentuan syari’at Islam. Bahkan salah satu rukun Islam yang lima. Betapa pentingnya menunaikan zakat ini sampai-sampai Allah mengulang-ngulangnya sebanyak 82 kali dalam Al-Qur’an dan sejajar dengan perintah untuk mendirikan sholat.

Zakat merupakan salah satu sumber utama keuangan Negara Islam, bahkan pada masa pemerintahan Kholifah pertama, Abu Bakar Siddik, orang Islam yang enggan membayar zakat diperangi, karena dianggap telah mengingkari ajaran Islam.

Zakat adalah ibadah kemasyarakatan yang berkaitan langsung dengan ekonomi keuangan, sosial kemasyarakatan dan pemerintahan. Jadi dengan posisinya sebagai ibadah kemasyarakatan, maka zakat bukanlah masalah pribadi yang pelaksanaannya diserahkan hanya atas kesadaran pribadi, tapi masalah zakat harus menjadi perhatian kita bersama, termasuk didalamnya lembaga keuangan dan pemerintah.

Secara yuridis formal keberadaan zakat diatur dalam UU Nomor 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 38/1999, pengelolaan zakat bertujuan membantu golongan fakir dan miskin. Zakat juga diyakini memiliki peran penting dalam perkembangan sosial dan ekonomi dan jika digunakan secara benar.

Pemerintah dalam hal ini terus berupaya mempasilitasi Baznas dan Bazda agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan tuntunan undang-undang. Pemerintah juga senantiasa meningkatkan perannya sebagai regulator, mativator dan fasilitator kepada lembaga-lembaga pengelola zakat dalam bentuk pemberian bantuan sarana dan bantuan biaya operasional yang dalam pelaksanaannya akan terus ditingkatkan hingga merata dalam rangka merealisasikan pengumpulan dana zakat dari masyarakat sehingga berhasil guna dan berdaya guna bagi kesejahteraan umat.

Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi Bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka seharusnya zakat bisa menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Meski demikian, upaya menggali potensi dan optimalisasi peran zakat di Indonesia belum sepenuhnya tergarap dengan maksimal. Sejauh ini zakat sebagai instrument pemberantasan kemiskinan masih sporadic dalam belum efektif secara permanen.

Mengapa demikian, ada beberapa kemungkinan yang membuat peran dan fungsi zakat menjadi tidak efektif antara lain, Pertama, jumlah orang miskin masih terlalu banyak. Kedua, dana zakat yang terhimpun masih sangat kecil sehingga tidak signifikan, baik karena kemampuan maupun karena kemauan umat Islam yang belum memadai. Ketiga, golongan penerima zakat bukan hanya fakir dan miskin, melainkan ada enam golongan lagi yang berhak menerima zakat. Keempat, manajemen penyalurannya belum belum klop dengan substansi masalah atau akar kemiskinan.

Lembaga pengelola zakat saat ini tidak hanya dimonopoli oleh BAZIS yang dikelola oleh negara tetapi dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Namun yang petut menjadi perhatian bagi lembaga pengelola amil zakat tersebut adalah bagaimana zakat tersebut dapat diberdayakan untuk menanggulangi dan mengatasi kemiskinan umat Islam pada khususnya dan warga Negara Indonesia pada umumnya. Pengelolaan ini penting agar zakat tidak hanya sekedar menjadi langka penghimpunan dana dan sasaran penyalurannya tidan jelas.

Oleh karena itu, sebagai upaya meningkatkan daya guna zakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh lembaga pengelola zakat terutama pengelolahan zakat secara professional dan akuntable sehingga memberikan rasa kepercayaan bagi para waji zakat bahwa dana yang telah mereka keluarkan dapat dikelola sebagai mana mestinya.

Di samping itu, penyaluran dana zakat bisa mungkin dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat semisal kemampuan berwirausaha sehingga mereka tidak menjadikan zakat sebagai gantungan hidup. Sehingga apabila simpul-simpul pemberdayaan tersebut dapat berkembang tentu akan mampu menciptakan lapangan kerja sehingga dapat memberikan manfaat nyata dalam mengurangi kemiskinan di daerak sekitarnya.

Potensi zakat dalam memerangi kemiskinan memang sangat besar karena sesungguhnya dalam setiap kekayaan orang kaya terdapat bagian hak milik orang-orang miskin. Meski demikian kita semua tentu menyadari bahwa besarnya potensi zakat sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengentaskan kemiskinan. Ditambah lagi masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menunaikan kewajiban membayar zakat.

Kondisi yang demikianlah yang menimbulkan kenyataan bahwa kita belum mampu mengangkat hidup orang fakir dan miskin dengan zakat. Jika zakat dijadikan salah satu upaya mengatasi kemiskinan maka dalam penyalurannya seharusnya lebih mengedepankan aspek pemberdayaan. Dana zakat itu bisa saja digunakan untuk biaya pendidikan (beasiswa), modal usaha dan sebagainya. Namun bagi mereka yang memang sudah sulit dikembangkan untuk berusaha sendiri kebutuhan awal yang sifatnya tetap harus dipenuhi.

Dengan demikian maka kaum fakir miskin tersebut akan mampu berusaha keluar dari jerat kemiskinan melalui kerja keras yang dilakukanya. Sehingga mereka tidak akan menjadikan kemiskinan sebagai alasan menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain. (Nasruni S.Ip)

Sumber: kamparkab.go.id, Kamis, 19 Agustus 2010

Artikel Terkait:

  1. Zakat Bebaskan Negeri dari Kemiskinan
  2. Zakat dan Kemiskinan
  3. Zakat Mengurangi Angka Kemiskinan
  4. Upaya merekat nikmat
  5. Zakat dan Penanggulangan Kemiskinan

Filed Under: FeaturedZIS Corner

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.